Jumat, 11 Desember 2015

DAS DI KAB. BEKASI

 Kondisi Air Permukaan DI KABUPATEN BEKASI

Kabupaten Bekasi merupakan SWS Citarum sepanjang 2.068 km2. Sungai yang berada di Kabupaten Bekasi adalah Kali Cikarang, Kali Ciherang, Kali Blencong, Kali Jambe, Kali Sadang, Kali Cikedokan, Kali Ulu, Kali Cilemahabang, Kali Cibeet, Kali Cipamingkis, Kali Siluman, kali Srengseng, kali Sepak, Kali Jaeran, dan Kali Bekasi.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Jawa Barat Nomor 68 Tahun 1997 tentang Peruntukan Air dan Baku Mutu Air, sungai-sungai di Kabupaten Bekasi yang dimanfaatkan untuk keperluan air baku air minum dan kegiatan pertanian adalah Sungai Citarum, Sungai Cibeet, Sungai Bekasi, dan Sungai Cikarang.

Kondisi kualitas sungai berdasarkan hasil pemeriksaan kualitas air sungai yang dilaksanakan oleh BPLH Kabupaten Bekasi tahun 2011 adalah sebagai berikut :
1.    Sungai Jambe, kondisi air dibawah baku mutu dan untuk beberapa parameter melebihi ambang batas yaitu Do, Zn, COD, BOD
2.    Sungai Menir, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas adalah Zn
3.    Sungai Jaeran, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas Zn
4.    Sungai Cikedokan, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas adalah Nitrit dan MBAS (konsentrasi deterjen)
5.    Sungai Sadang, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas adalah MBAS (konsentrasi deterjen)
6.    Kali Ulu, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yeng melebihi ambang batas Nitrit
7.    Sungai Cilemahabang, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas Zn
8.    Sungai CBL, kondisi di bawah baku mutu
9.    Sungai Cikarang, kondisi di bawah baku mutu dan parameter yang melebihi ambang batas MBAS (konsentrasi deterjen)

Tabel 2.1
Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Bekasi

No
DAS
Luas
Debit (m3/dtk)
1
CBL

842,5 m3/dtk
2
Ciherang

216 m3/dtk
3
Citarum

2342,5 m3/dtk
4
Bekasi

410 m3/dtk
Sumber : Kegiatan Survei dan Pendataan DAS di Kabupaten Bekasi, Bappeda, 2011
  
           Wilayah Yang Dipengaruhi Oleh Pasang Surut
Wilayah pantai utara Kabupaten Bekasi terdiri dari Kecamatan Muaragembong, Tarumajaya, dan Babelan. Wilayah ini sering mengalami banjir pasang surut (rob). Kecamatan Babelan termasuk salah satu kecamatan yang cukup berkembang hl ini dikarenakan letaknya yang berbatasan dengan DKI Jakarta, sedangkan Kecamatan Muaragembong lebih didominasi penggunaan lahannya untuk tambak dan mangrove.

              KUALITAS AIR SUNGAI
Berdasarkan Laporan Basis Data Lingkungan Lidup Kabupaten Bekasi Tahun 2012 yang dilakukan oleh BPLHD Kabupaten Bekasi, dilakukan pengambilan sampel air di  36 titik (Tabel dibawah ini) dari 18 sungai yang mengalir dilaksanakan pada bulan September 2012.
Hasilnya analisa kualitas air permukaan/sungai dibanding dengan Baku Mutu yang diinginkan berdasarkan Peraturan No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian pencemaran Air dengan klasifikasimsebagai berikut :
1.    Kelas 1 air yang diperuntukan digunakan untuk air baku air minum.
2.    Kelas 2 air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman.
3.    Kelas 3, air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, pentanaman.
4.    Kelas 4 ar yang peruntukannya untuk mengairi pertanaman
   
LOKASI PENGAMBILAN SAMPEL AIR SUNGAI
No
Titik
Sungai
Lokasi Pengambialn Sanpel
Kelas/Gol
1
1
S. Cipamingkis hulu
S 06◦26.482"   E107◦09.183"
2
2
2
S. Cipamingkis hilir
S 06◦22.628"   E107◦12.347"
2
3
3
S.Citeet hulu
S 06◦29.150"   E 107◦10.443"
2
4
4
S.Citeet hilir
S 06◦22.606"   E107◦10.372"
2
5
5
S.Sasak Jarang  hulu
S 06◦15.642.1"   E107◦01.158.9"
2
6
6
S.Sasak Jarang  hilir
S 06◦15'05.3" E 107◦01'48.7"
2
7
7
S.Menir hulu
S.06◦15'47.8"   E107◦01.30.5"
2
8
8
S.Menir hilir
S 06◦15'14.1"   E107◦02'01.4"
2
9
9
S.Jambe hulu
S 06◦16'03.2"   E107◦02'12.0"
2
10
10
S.Jambe hilir
S 06◦15'32.6"   E107◦03'04.4"
2
11
11
S.Jaeran hulu
S 06◦16'42.2"   E107◦04'22.9"
2
12
12
S.Jaeran hilir
S 06◦15'55.1"   E107◦04'24.3"
2
13
13
S.Bekasi hulu
S 06◦12'44.9"   E107◦02'01.6"
2
14
14
S.Bekasi hilir
S 06◦07'40.0"   E107◦03'33.4"
2
15
15
S.Cikarang hulu
S 06◦17'28.6"   E107◦01'07.1"
2
16
16
S.Cikarang hilir
S 06◦07'42.3"   E107◦03'37.6"
2
17
17
S.Cilemah Abang hulu
S 06◦20'43.8"   E107◦01'07.1"
2
18
18
S.Cilemah Abang hilir
S 06◦16'34.5"   E107◦10'39.1"
2
19
19
S.Hulu chulu hulu
S 06◦18'44.12"   E107◦08'00.7"
2
20
20
S.Hulu chulu hilir
S 06◦13'11.0"   E107◦11'41.8"
2
21
21
S.Cikedokan Hulu
S 06◦17'54.1"   E107◦05'44.5"
2
Sumber : BPLHD Kab.Bekasi, 2013

Masing-masing sungai terdiri dari 2 titik hulu dan hilir sungai, sungai yang diperuntukan kelas 2, pamantauan dilakukan pada tahun 2011 dan bulan September 2012.
Kualitas fisik sungai rata-rata masih baik dihulu maupun dihilir. Kualitas kimia dihilir sungai terjadi peningkatan jumlah BOD dan COD dihilir kualitas menjadi buruk, terdapat nilai deterjen yang melebihi baku mutu, seperti diketahui adanya deterjen dapat menyebabkan iritasi kulit dan menurunkann kadar oksigen yang mmenyebabkan matinya ikan, bila sisa benzene bereaksi dengan klor (air minum) menghasilkan klorobenzena yang berbahaya bagi makhluk hidup dan adanya busa menyebabnya berkurangnya kontak air dengan udara menyebabkan nilai DO bisa turun dan banyak sampah. Kualitas biologi tidak melebihi baku mutu perairan ,

NEGATIVE IMPACTS OF AIR POLLUTION

NEGATIVE IMPACTS OF AIR POLLUTION
Air pollution has been very alarming , several studies on air pollution with all the risks have been published , including the risk of blood cancer . However , rarely realized who knows how many thousands of people die each year due to respiratory infections , asthma , and lung cancer due to air pollution . Although occasionally been raining in Bekasi regency sky no longer blue . The air was filled with soot and gases that are harmful to human health . It is estimated that in the next ten years an increasing number of patients with lung disease and respiratory tract . Not only acute respiratory infections which now ranks first in the disease pattern in many areas in Indonesia , but also the increasing number of people with asthma and lung cancer .
Contribution of motor vehicle exhaust gas as a source of air pollution reaches 60-70%. While the contribution of flue gas from industrial chimneys is only about 10-15%, the remainder coming from other combustion sources, for example from households, waste burning, forest fires, etc. Actually many air pollutants that need to watch, but the World Health Organization (WHO) defined several types of air pollutants that are considered serius.Polutan harmful to human health, animals, and easily destroyed property is Aspa particulates containing particles and soot, hydrocarbons, sulfur dioxide, and nitrogen oxides. Everything is emitted by motor vehicles. WHO estimates that 70% of urban dwellers in the world ever breathe dirty air as a result of motor vehicle emissions, the remaining 10% sedagkan breathe air that is marginal. Consequently fatal for infants and children. Adults who are at high risk, such as pregnant women, the elderly, and people who have a history of lung disease and chronic respiratory tract. Unfortunately, the patients and their families do not realize that a variety of negative consequences will come from air pollution caused by vehicle emissions is increasingly alarming.

Pencemaran Udara teknik lingkungan

    DAMPAK NEGATIF PENCEMARAN UDARA
Polusi udara telah sangat memprihatinkan, beberapa hasil penelitian tentang polusi udara dengan segala resikonya telah dipublikasikan, termasuk resiko kanker darah. Namun, jarang disadari entah berapa ribu warga yang meninggal setiap tahunnya karena infeksi saluran pernapasan, asma, maupun kanker paru-paru akibat polusi udara . Meskipun sesekali telah turun hujan langit di kabupaten Bekasi tidak biru lagi. Udara telah dipenuhi oleh jelaga dan gas-gas yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Diperkirakan dalam sepuluh tahun mendatang terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit paru-paru dan saluran pernapasan. Bukan hanya infeksi saluran pernapasan akut yang kini menempati urutan pertama dalam pola penyakit diberbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga meningkatnya jumlah penderita penyakit asma dan kanker paru-paru.
Kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%. Sedangkan kontribusi gas buang dari cerobong asap industri hanya berkisar 10-15%, sisanya berasal dari sumber pembakaran lain,misalnya dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan, dll. Sebenarnya banyak polutan udara yang perlu diwaspadai, tetapi organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan beberapa jenis polutan yang dianggap serius.Polutan udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia, hewan,serta mudah merusak harta benda adalah partikulat yang mengandung partikel aspa dan jelaga, hidrokarbon, sulfur dioksida, dan nitrogen oksida. Semuanya diemisikan oleh kendaraan bermotor. WHO memperkirakan bahwa 70% penduduk kota di dunia pernah menghirup udara kotor akibat emisi kendaraan bermotor, sedagkan 10% sisanya menghirup udara yang bersifat marginal. Akibatnya fatal bagi bayi dan anak-anak. Orang dewasa yang beresiko tinggi, misalnya wanita hamil, usia lanjut, serta orang yang telah memiliki riwayat penyakit paru dan saluran pernapasan menahun. Celakanya, para penderita maupun keluarganya tidak menyadari bahwa berbagai akibat negatif tersebut berasal dari polusi udara akibat emisi kendaraan bermotor yang semakin memprihatinkan.
Tabel 1 menjelaskan tentang pengaruh pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang nilai menunjukkan batasan kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh manusia. Karbon monoksida, nitrogen, ozon, sulfur dioksida dan partikulat matter adalah beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar. Satu lokasi di Jakarta yang diketahui merupakan daerah kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan lapangan [1].
Tabel 1. Pengaruh Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Kategori
Rentang
Karbon monoksida (CO)
Nitrogen (NO2)
Ozon (O3)
Sulfur dioksida (SO2)
Partikulat
Baik
0-50
Tidak ada efek
Sedikit berbau
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan akibat kombinasi dengan SO2 (Selama 4 Jam)
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan akibat kombinasi dengan O3 (Selama 4 Jam)
Tidak ada efek
Sedang
51 – 100
Perubahan kimia darah tapi tidak terdeteksi
Berbau
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan
Luka pada Beberapa spesies tumbuhan
Terjadi penurunan pada jarak pandang
Tidak Sehat
101 – 199
Peningkatan pada kardiovaskular pada perokok yang sakit jantung
Bau dan kehilangan warna. Peningkatan reaktivitas pembuluh tenggorokan pada penderita asma
Penurunan kemampuan pada atlit yang berlatih keras
Bau, Meningkatnya kerusakan tanaman
Jarak pandang turun dan terjadi pengotoran debu di mana-mana
Sangat Tidak Sehat
200-299
Meningkatnya kardiovaskular pada orang bukan perokok yang berpenyakit Jantung, dan akan tampak beberapa kelemahan yang terlihat secara nyata
Meningkatnya sensitivitas pasien yang berpenyakit asma dan bronchitis
Olah raga ringan mengakibatkan pengaruh parnafasan pada pasien yang berpenyaklt paru-paru kronis
Meningkatnya sensitivitas pada pasien berpenyakit asma dan bronchitis
Meningkatnya sensitivitas pada pasien berpenyakit asma dan bronchitis
Berbahaya
300 – lebih
Tingkat yang berbahaya bagi semua populasi yang terpapar


Tabel 2. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang
Pencemar
Sumber
Keterangan
Karbon monoksida (CO)
Buangan kendaraan bermotor; beberapa proses industri
Standar kesehatan: 10 mg/m3 (9 ppm)
Sulfur dioksida (S02)
Panas dan fasilitas pembangkit listrik
Standar kesehatan: 80 ug/m3 (0.03 ppm)
Partikulat Matter
Buangan kendaraan bermotor; beberapa proses industri
Standar kesehatan: 50 ug/m3 selama 1 tahun; 150 ug/m3
Nitrogen dioksida (N02)
Buangan kendaraan bermotor; panas dan fasilitas
Standar kesehatan: 100 pg/m3 (0.05 ppm) selama 1 jam
Ozon (03)
Terbentuk di atmosfir
Standar kesehatan: 235 ug/m3 (0.12 ppm) selama 1 jam
Sumber: Bapeda tahun 2009

Tabel 2 memperlihatkan sumber emisi dan standar kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah melalui keputusan Bapedal. BPLHD Propinsi DKI Jakarta pun mencatat bahwa adanya penurunan yang signifikan jumlah hari dalam kategori baik untuk dihirup dari tahun ke tahun sangat mengkhawatirkan. Dimana pada tahun 2000 kategori udara yang baik sekitar 32% (117 hari dalam satu tahun) dan di tahun 2003 turun menjadi hanya 6.85% (25 hari dalam satu tahun) [3]. Hal ini menandakan Indonesia sudah seharusnya memperketat peraturan tentang pengurangan emisi baik sektor industri maupun sektor transportasi darat/laut. Selain itu tentunya penemuan-penemuan teknologi baru pengurangan emisi dilanjutkan dengan pengaplikasiannya di masyarakat menjadi suatu prioritas utama bagi pengendalian polusi udara di Indonesia.

PENCEMARAN TANAH

Langkah penanggulangan pencemaran tanah

Apabila pencemaran telah terjadi, maka perlu dilakukan penanggulangan terhadap pencemara tersebut. Tindakan penanggulangan pada prinsipnya mengurangi bahan pencemar tanah atau mengolah bahan pencemar atau mendaur ulang menjadi bahan yang bermanfaat. Tanah dapat berfungsi sebagaimana mestinya, tanah subur adalah tanah yang dapat ditanami dan terdapat mikroorganisme yang bermanfaat serta tidak punahnya hewan tanah. Langkah tindakan penanggulangan yang dapat dilakukan antara lain dengan cara:

1.      Sampah-sampah organik yang tidak dapat dimusnahkan (berada dalam jumlah cukup banyak) dan mengganggu kesejahteraan hidup serta mencemari tanah, agar diolah atau dilakukan daur ulang menjadi barangbarang lain yang bermanfaat, misal dijadikan mainan anak-anak, dijadikan bahan bangunan, plastik dan serat dijadikan kesed atau kertas karton didaur ulang menjadi tissu, kaca-kaca di daur ulang menjadi vas kembang, plastik di daur ulang menjadi ember dan masih banyak lagi cara-cara pendaur ulang sampah.

2.       Bekas bahan bangunan (seperti  keramik, batu-batu, pasir, kerikil, batu bata, berangkal) yang dapat menyebabkan tanah menjadi tidak/kurang subur, dikubur dalam sumur secara berlapis-lapis yang dapat berfungsi sebagai resapan dan penyaringan air, sehingga tidak menyebabkan banjir, melainkan tetap berada di tempat sekitar rumah dan tersaring. Resapan air tersebut bahkan bisa masuk ke dalam sumur dan dapat digunakan kembali sebagai air bersih.

3.       Hujan asam yang menyebabkan pH tanah menjadi tidak sesuai lagi untuk tanaman, maka tanah perlu ditambah dengan kapur agar pH asam berkurang.

Dengan melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran lingkungan hidup (pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah) berarti kita melakukan pengawasan, pengendalian, pemulihan, pelestarian dan pengembangan terhadap pemanfaatan lingkungan) udara, air dan tanah yang telah disediakan dan diatur oleh Allah sang pencipta, dengan demikian berarti kita mensyukuri anugerah-Nya.


Penanggulangan Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah dapat ditanggulangi dengan cara sebagai berikut :

1.  Landfill, yaitu pembuangan sampah ke dalam lobang (tempat yang lebih rendah).
2.  sanitary incine ration, pembuangan sampah ke dalam jurang kemudian ditutup lagi dengan tanah
3. Individual incineration, yaitu sampah dikumpulkan dan dibakar sendiri.
4. Incinerator, yaitu pembakaran sampah setelah sampah terkumpul banyak oleh petugas kebersihan