Jumat, 13 November 2015

SISTEM PENGOLAAN AIR MINUM

TUGAS KELOMPOK 1
SISTEM PENGOLAHAN AIR MINUM
                                                                     




STT PELITA BANGSA

 CIKARANG




Disusun oleh :
1.    Dedy Sumarno          (331310022)
2.    Desi Suci H.               (331310026)
3.    Sukandar                   (331310056)
4.    Sukarno                     (
5.    Nurul Khomsatun     (331320103)
6.    Rendi Swandana       (331320101)

TEKNIK LINGKUNGAN SEMESTER VI STT PELITA BANGSA
Jl. Raya Inspeksi Kalimalang Tegal gede-Tegal Danas, Cikarang Baru, Bekasi
Tahun 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
            Air adalah komponen penting dalam kehidupan, merupakan sumber kehidupan yang vital. Bermacam-macam kegunaan air seperti mandi, mencuci, menyiram tanaman, dan yang terpenting adalah air sebagai air minum. Karena menurut survey makhluk hidup khususnya manusia hanya dapat bertahan 3 hari tanpa minum. Air yang masuk ke dalam tubuh hendaknya memenuhi syarat air minum, tidak mebahayakan dan bermanfaat bagi kinerja tubuh. Untuk itu perlu dilakukan pengolahan air dari sumber baku menjadi air layak konsumsi dengan memenuhi standar mutu yang telah ditentukan. Pengolahan air tersebut akan menhasilkan air yang memenuhi persyaratan higienis maupun estetis dengan kontinuitas debit yang terjaga serta terjangkau harganya oleh masyarakat.
1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
a)    Agar mahaiswa mengetahui tentang bagaimana penyediaan air bersih.
b)    Agar mahasiswa mampu menganalisa bagaimana pengaruh penyediaan air bersih
c)    Agar mahasiswa mampu merencanakan dan memperhitungkan penyediaan air bersih di suatu tempat
d)    Untuk memenuhi tugas mata kuliah SPAM
1.3 DIAGRAM ALIR
Gambar diagram proses pengolahan air minum
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBA00OQEda5f141v579oomkLoVXQi6Drt-zzLzCjoOp5tX2XjuYl2QP1kq6wZzLQ5u3yBF72dzEskkCeQWaBN2AYfxkBDQqeYHbyqzDl13LhsnhPF5JGOLk1ofMeQcIwxzjnsOZx2qGp0/s700/4.gif
BAB II
KRITERIA PERENCANAAN
2.1  KRITERIA UMUM

a)    Sumber Air Bersih
Berdasarkan petunjuk Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu perihal Pedoman Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih, disebutkan bahwa sumber air baku yang perlu diolah terlebih dahulu adalah:
v  Mata air, Yaitu sumber air yang berada di atas permukaan tanah. Debitnya sulit untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam jangka beberapa lama.
v  Sumur dangkal (shallow wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.
v  Sumur dalam (deep wells), Yaitu sumber air hasil penggalian ataupun pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40 meter.
v  Sungai, Yaitu saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau. Secara umum air baku yang didapat dari sungai harus diolah terlebih dahulu, karena kemungkinan untuk tercemar polutan sangat besar.
v  Danau dan Penampung Air (lake and reservoir), Yaitu unit penampung air dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran sungai maupun tampungan dari air hujan.
v  Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan air minum adalah (Budi D. Sinulingga, Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan Lokal, 1999):
v  Air hujan. Biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi akan mengalami pencemaran sehingga tidak memenuhi syarat apabila langsung diminum.
v  Air permukaan tanah (surface water). Yaitu rawa, sungai, danau yang tidak dapat diminum sebelum melalui pengolahan karena mudah tercemar.
v  Air dalam tanah (ground water). Yang terdiri dari air sumur dangkal dan air sumur dalam. Air sumur dangkal dianggap belum memenuhi syarat untuk diminum karena mudah tercemar. Sumber air tanah ini dapat dengan mudah dijumpai seperti yang terdapat pada sumur gali penduduk, sebagai hasil budidaya manusia. Keterdapatan sumber air tanah ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti topografi, batuan, dan curah hujan yang jatuh di permukaan tanah. Kedudukan muka air tanah mengikuti bentuk topografi, muka air tanah akan dalam di daerah yang bertopografi tinggi dan dangkal di daerah yang bertopografi rendah.
Sumber air untuk penyediaan air minum berdasarkan kualitasnya dapat dibedakan atas:
·         Sumber yang bebas dari pengotoran (pollution).
·         Sumber yang mengalami pemurniaan alamiah (natural purification).
·         Sumber yang mendapatkan proteksi dengan pengolahan buatan (artificial treatment).


b)    Standar Kualitas Air Baku
Air bersifat universal dalam pengertian bahwa air mampu melarutkan zat-zat yang alamiah dan buatan manusia. Untuk menggarap air alam, meningkatkan mutunya sesuai tujuan, pertama kali harus diketahui dahulu kotoran dan kontaminan yang terlarut di dalamnya. Pada umumnya kadar kotoran tersebut tidak begitu besar.
Berdasarkan SK Menteri Kesehatan 1990 Kriteria penentuan standar baku mutu air dibagi dalam tiga bagian yaitu:
·         Persyaratan kualitas air untuk air minum.
·         Persyaratan kualitas air untuk air bersih.
·         Persyaratan kualitas air untuk limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi.
Persyaratan air yang memenuhi standar meliputi,
a.    Syarat fisik, antara lain:
1)    Air harus bersih dan tidak keruh.
2)    Tidak berwarna
3)    Tidak berasa
4)    Tidak berbau
5)    Suhu antara 10o-25 o C (sejuk)

b.    Syarat kimiawi, antara lain:
1)    Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.
2)    Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
3)    Cukup yodium.
4)    pH air antara 6,5 – 9,2.

c)    Syarat bakteriologi, antara lain:
1)    Tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.
Pada umumnya kualitas air baku akan menentukan besar kecilnya investasi instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga semakin jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat untuk membayar harga jual air bersih.
Dalam peraturan tersebut standar air bersih dapat dibedakan menjadi tiga kategori (Menkes No. 173/per/VII tanggal 3 Agustus 1977):
v  Kelas A. Air yang dipergunakan sebagai air baku untuk keperluan air minum.
v  Kelas B. Air yang dipergunakan untuk mandi umum, pertanian dan air yang terlebih dahulu dimasak.
v  Kelas C. Air yang dipergunakan untuk perikanan darat.

c.    Sistem Penyediaan Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih meliputi besarnya komponen pokok antara lain: unit sumber air baku, unit pengolahan, unit produksi, unit transmisi, unit distribusi dan unit konsumsi.
1.    Unit sumber air baku merupakan awal dari sistem penyediaan air bersih yang mana pada unit ini sebagai penyediaan air baku yang bisa diambil dari air tanah, air permukaan, air hujan yang jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan.
2.    Unit pengolahan air memegang peranan penting dalam upaya memenuhi kualitas air bersih atau minum, dengan pengolahan fisika, kimia, dan bakteriologi, kualitas air baku yang semula belum memenuhi syarat kesehatan akan berubah menjadi air bersih atau minum yang aman bagi manusia.
3.    Unit produksi adalah salah satu dari sistem penyediaan air bersih yang menentukan jumlah produksi air bersih atau minum yang layak didistribusikan ke beberapa tandon atau reservoir dengan sistem pengaliran gravitasi atau pompanisasi. Unit produksi merupakan unit bangunan yang mengolah jenis-jenis sumber air menjadi air bersih. Teknologi pengolahan disesuaikan dengan sumber air yang ada.
4.    Unit transmisi berfungsi sebagai pengantar air yang diproduksi menuju ke beberapa tandon atau reservoir melalui jaringan pipa.
5.    Unit distribusi adalah merupakan jaringan pipa yang mengantarkan air bersih atau minum dari tandon atau reservoir menuju ke rumah-rumah konsumen dengan tekanan air yang cukup sesuai dengan yang diperlukan konsumen.
6.    Unit konsumsi adalah merupakan instalasi pipa konsumen yang telah disediakan alat pengukur jumlah air yang dikonsumsi pada setiap bulannya.

2.2  KRITERIA KEBUTUHAN AIR
Semakin padat jumlah penduduk dan semakin tinggi tingkat kegiatan akan menyebabkan semakin besarnya tingkat kebutuhan air. Variabel yang menentukan besaran kebutuhan akan air bersih antara lain adalah sebagai berikut:
1.    Jumlah penduduk
2.    Jenis kegiatan
3.    Standar konsumsi air untuk individu
4.    Jumlah sambungan
Target pelayanan dapat merupakan potensi pasar atau mengacu pada kebijaksanaan nasional. Asumsi-asumsi lain yang digunakan mengikuti kecenderungan data yang ada di lapangan serta kriteria dan standar yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang, yaitu seperti:
1.    Cakupan pelayanan
2.    Jumlah pemakai untuk setiap jenis sambungan
3.    Jenis sambungan
4.    Tingkat kebutuhan konsumsi air
5.    Perbandingan SR/HU
6.    Kebutuhan Domestik dan Non Domestik
7.    Angka kebocoran
8.    Penanggulangan kebakaran
Perencanaan pengadaan sarana prasarana air bersih dilakukan dengan memperhitungkan jumlah kebutuhan air yang diperlukan bagi daerah perencanaan. Proyeksi kebutuhan air dihitung dengan menggunakan data proyeksi jumlah penduduk, standar kebutuhan air bersih, cakupan pelayanan, koefisien kehilangan air, dan faktor puncak yang diperhitungkan untuk keamanan hitungan perencanaan.
Satuan Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan air terbagi atas kebutuhan untuk:
1.    Rumah Tangga
2.    Non Rumah Tangga
Pemerintah Indonesia telah menyusun program pelayanan air bersih sesuai dengan kategori daerah yang dikelompokkan berdasarkan jumlah penduduk.
Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota
No
Kategori Kota
Jumlah Penduduk
Sistem
Tingkat Pemakaian Air
1
Kota Metropolitan
> 1.000.000
Non Standar
190
2
Kota Besar
500.000 – 1.000.000
Non Standar
170
3
Kota Sedang
100.000 – 500.000
Non Standar
150
4
Kota Kecil
20.000 – 100.000
Standar BNA
130
5
Kota Kecamatan
< 20.000
Standar IKK
100
6
Kota Pusat Pertumbuhan
< 3.000
Standar DPP
30
Sumber : SK-SNI Air Bersih

Tingkat Pemakaian Air Non Rumah Tangga
No
Non Rumah Tangga (fasilitas)
Tingkat Pemakaian Air
1
Sekolah
10 liter/hari
2
Rumah Sakit
200 liter/hari
3
Puskesmas
(0,5 – 1) m3/unit/hari
4
Peribadatan
(0,5 – 2) m3/unit/hari
5
Kantor
(1 – 2) m3/unit/hari
6
Toko
(1 – 2) m3/unit/hari
7
Rumah Makan
1 m3/unit/hari
8
Hotel/Losmen
(100 – 150) m3/unit/hari
9
Pasar
(6 – 12) m3/unit/hari
10
Industri
(0,5 – 2) m3/unit/hari
11
Pelabuhan/Terminal
(10 – 20) m3/unit/hari
12
SPBU
(5 – 20) m3/unit/hari
13
Pertamanan
25    3/unit/hari
Sumber : SK-SNI Air Bersih

2.3 KRITERIA HIDROLIS
2.3.1 SISTEM PENGALIRAN
Sistem pengaliran dari sumber air baku sampai menjadi air dengan standar air minum melalui beberapa proses. Instalasi pengolahan air minum dapat dijelaskan sebagai berikut.
1.    Intake dan Transmisi
Intake dan transmisi merupakan sarana penyediaan air baku bagi suatu instalasi pengolahan air. Profil hidrolis adalah faktor yang penting demi terjadinya proses pengaliran air. Profil ini tergantung dari energi tekan/head tekan (dalam tinggi kolom air) yang tersedia bagi pengaliran. Head ini dapat disediakan oleh beda elevasi (tinggi ke rendah) sehingga air pun akan mengalir secara gravitasi. Jika tidak terdapat beda elevasi yang memadai, maka perlu diberikan head tambahan dari luar, yaitu dengan menggunakan pompa.

Description: C:\Users\Mirna\Downloads\Lake Intake (Thinkortwim.com).jpeg
Intake merupakan bangunan penangkap/ pengumpul air yang berfungsi untuk :
·         Mengumpulkan air baku dari sumber untuk menjaga kuantitas debit air yang dibutuhkan oleh instalasi.
·         Menyaring benda-benda kasar dengan menggunakan bar screen.
·         Mengambil air baku yang sesuai dengan debit yang diperlukan oleh instalasi pengolahan yang direncanakan untuk menjaga kontinuitas penyediaan atau pengambilan air dari sumber.
Kriteria yang harus dipenuhi dalam pembuatan intake adalah :
·         Tertutup untuk mencegah masuknya sinar matahari yang memungkinkan tumbuhan atau mikroorganisme hidup.
·         Tanah di lokasi intake harus stabil.
·         Intake harus kedap air sehingga tidak terjadi kebocoran.
·         Intake harus di desain untuk menghadapi keadaan darurat.
·         Intake dekat permukaan air untuk mencegah masuknya suspended solid dan inlet jauh di atas intake.
Macam-macam intake :
                      i.        Direct Intake
Intake jenis ini mungkin dibangun jika sumber air memiliki kedalaman yang besar seperti sungai dan danau, dan apabila tanggul tahan terhadap erosi dan sedimentasi.
                     ii.        Canal Intake
Ketika air diambil dari kanal, ruangan yang terbuat dari batu dengan lubang dibangun di pinggiran kanal. Lubang tersebut dilengkapi dengan saringan kasar. Dari ruangan batu, air diambil menggunakan pipa yang memiliki bell mouth, yang dilapisi dengan tutup hemispherical yang berlubang-lubang. Luas daerah lubang yang terdapat pada penutup adalah satupertiga dari area hemisphere. Karena pembangunan intake di kanal, lebar kanal menjadi berkurang dan mengakibatkan meningkatnya kecepatan aliran. Hal ini dapat menyebabkan penggerusan tanah, oleh karena itu di bagian hulu dan hilir intake harus dilapisi.
                    iii.        Intake Bendungan
         Digunakan untuk menaikkan ketinggian muka air sungai sehingga tinggi muka air yang direncanakan memungkinkan konstannya debit pengambilan air. Intake bendungan dapat digunakan untuk pengambilan air dalam jumlah besar dan dapat mengatasi fluktuasi muka air.
v  Transmisi
Sistem transmisi menghubungkan antara intake dengan instalasi pengolahan air minum. Transmisi tergantung pada topografi (perubahan elevasi) sehingga mungkin saja diperlukan pompa.
·         Pipa Transmisi
Pipa transmisi digunakan untuk menyalurkan air dari lokasi intake ke instalasi pengolahan. Dalam menentukan jenis pipa yang digunakan dalam sistem transmisi maka perlu dipertimbangkan beberapa hal yaitu :
·         Durabilitas dan kondisi air yang dihantarkan
·         Ketahanan terhadap erosi dan korosi
·         Harga pipa dan biaya pemasangan
·         Jenis sambungan yang diperlukan, kekuatannya dan kemudahan konstruksi
·         Kondisi lokal (Mudah didapat, bahan lokal, dan biaya perawatan)

ü  Pompa Transmisi
Pompa digunakan untuk menyediakan head yang cukup untuk mengalirkan air dari satu tempat yang memiliki head lebih rendah daripada tempat yang lain. Klasifikasi pompa yang ada di pasaran adalah :
·         Reciprocating Pump
·         Fland Pump
·         Centrifugal Pump
·         Air Lift Pump
2.    Aerasi
Aerator dapat digunakan untuk menyisihkan komponen volatil yang terlarut, yang keberadaannya berlebih pada konsentrasi jenuhnya. Beberapa senyawa organik yang toksik bersifat volatil. Komponen penyebab rasa dan bau pada air juga dapat disisihkan sampai ke tingkat yang memuaskan. Air tanah yang mengandung CO2 dalam konsentrasi yang tinggi akan dapat disisihkan sampai ke batas yang dapat diterima (memenuhi baku mutu).
3.    Koagulasi
Pada proses koagulasi dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) dilakukan proses destabilisasi partikel koloid, karena pada dasarnya sumber air (air baku) biasanya berbentuk koloid dengan berbagai koloid yang terkandung didalamnya. Tujuan proses ini adalah untuk memisahkan air dengan pengotor yang terlarut didalamnya. Proses destabilisasi ini dapat dilakukan dengan penambahan bahan kimia maupun dilakukan secara fisik dengan rapid missing (pengadukan cepat), hidrolis (terjunan atau hydrolic jump), maupun secara mekanis (menggunakan batang pengaduk).
4.    Flokulasi
Proses flokulasi pada Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) bertujuan untuk membentuk dan memperbesar flok (pengotor yang terendapkan). Disini dilakukan pengadukan lambat (slow mixing), aliran air disini harus tenang. Untuk meningkatkan efisiensi biasanya ditambah dengan senyawa kimia yang mampu mengikat flok-flok.
5.    Sedimentasi
Proses sedimentasi menggunakan prinsip berat jenis, dan proses sedimentasi dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) berfungsi untuk mengendapkan partikel-partikel koloid yang sudah didestabilisasi oleh proses sebelumnya (partikel koloid lebih besar berat jenisnya daripada air). Pada masa kini proses koagulasi, flokulasi dan sedimentasi dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) ada yang dibuat tergabung menjadi sebuah proses yang disebut aselator.
6.    Filtrasi
Dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) proses filtrasi, sesuai dengan namanya bertujuan untuk penyaringan. Teknologi membran bisa dilakukan pada proses ini, selain bisa juga menggunakan media lainnya seperti pasir dan lainnya. Dalam teknologi membran proses filtrasi membran ada beberapa jenis, yaitu: Multi Media Filter, UF (Ultrafiltration) System, NF (Nanofiltration) System, MF (Microfiltration) System, RO (Reverse Osmosis) System.
7.    Desinfeksi
Desinfeksi adalah proses penambahan bahan kimia yang bertujuan untuk memngurangi atau membunuh kuman atau bakteri yang ada. Setelah melewati proses filtrasi dan air bersih dari pengotor, ada kemungkinan masih terdapat kuman dan bakteri yang hidup, sehingga diperlukan penambahan senyawa kimia dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang dapat mematikan kuman, biasanya berupa penambahan chlor, ozonosasi, UV, pemabasan dll sebelum masuk ke konstruksi terakhir yaitu reservoir.
3.         Reservoir
Konstruksi Reservoir dalam Water Treatment Plant (WTP) atau Instalasi Pengolahan Air (IPA) berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air bersih sebelum didistribusikan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merancang  reservoir adalah :
*      Volume reservoir
Volume ditentukan berdasarkan tingkat pelayanan dengan memperhatikan fluktuasi pemakaian dalam satu hari di satu kota yang akan dilayani.
*      Tinggi elevasi energi
Elevasi energi reservoir harus bisa melayani seluruh jaringan distribusi. Elevasi energi akan menentukan sistem pengaliran dari reservoir menuju jaringan distribusi. Bila elevasi energi pada reservoir lebih tinggi dari sistem distribusi maka pengaliran dapat dilakukan secara gravitasi. Untuk kondisi sebaliknya, bila elevasi energi reservoir lebih rendah dari jaringan distribusi maka pengaliran dapat dilakukan dengan menggunakan pompa.
*      Letak reservoir.
Reservoir diusahakan terletak di dekat dengan daerah distribusi. Bila topografi daerah distribusi rata maka reservoir dapat diletakkan di tengah-tengah daerah distribusi. Bila topografi naik turun maka reservoir diusahakan diletakkan pada daerah tinggi sehingga dapat mengurangi pemakaian pompa dan menghemat biaya.

2.3.2 SISTEM DISTRIBUSI AIR
Rencana Pengembangan Jalur Pipa Distribusi
Pada saat merencanakan pengembangan dari suatu jalur perpipaan maka perlu diusahakan agar diperoleh sistem pengaliran yang baik ke konsumen. Penyampaian air secara baik dan optimum kepada konsumen memerlukan perencanaan sistem jaringan perpipaan yang akurat dengan memperhitungkan beberapa hal diantaranya:
§  Jaringan direncanakan dengan biaya paling murah, yaitu dengan perencanaan jalur yang terpendek dengan memiliki diameter terkecil.
§  Pemakaian energi operasi seminimal mungkin, yaitu secara gravitasi dengan memanfaatkan tinggi muka tanah.
§  Terpenuhinya syarat-syarat hidrolis.
§  Kontinuitas pelayanan yang semaksimal mungkin.
§  Mudah dalam pemasangan, pemeliharaan, dan pengoperasiannya (secara teknis, sistem mudah dikerjakan).
Untuk itu terdapat beberapa kriteria teknis yang perlu diperhatikan, yaitu:
§  Memperhatikan keadaan profil muka tanah di daerah perencanaan. Diusahakan untuk menghindari penempatan jalur pipa yang sulit sehingga pemilihan lokasi penempatan jalur pipa tidak akan menyebabkan penggunaan perlengkapan yang terlalu banyak.
§  Lokasi jalur pipa dipilih dengan menghindari medan yang sulit, seperti bahaya tanah longsor, banjir 1-2 tahunan atau bahaya lainnya yang dapat menyebabkan lepas atau pecahnya pipa.
§  Jalur pipa sedapat mungkin mengikuti pola jalan seperti jalan yang berada di atas tanah milik pemerintah, sepanjang jalan raya atau jalan umum, sehingga memudahkan dalam pemasangan dan pemeliharaan pipa.
§  Jalur pipa diusahakan sesedikit mungkin melintasi jalan raya, sungai, dan lintasan kereta, jalan yang kurang stabil untuk menjadi dasar pipa, dan daerah yang dapat menjadi sumber kontaminasi.
§  Jalur pipa sedapat mungkin menghindari belokan tajam baik yang vertikal maupun horizontal, serta menghindari efek syphon yaitu aliran air yang berada diatas garis hidrolis.
§  Menghindari tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya kontaminasi selama pengaliran.
§  Diusahakan pengaliran dilakukan secara gravitasi untuk menghindari penggunaan pompa.
§  Untuk jalur pipa yang panjang sehingga membutuhkan pompa dalam pengalirannya, katup atau tangki pengaman harus dapat mencegah terjadinyawater hammer.
2.3.3 SISTEM DISTRIBUSI AIR
Pola jaringan Distribusi  yang sesuai untuk diterapkan pada suatu daerah perencanaan ditentukan oleh beberapa aspek seperti:
§  Jenis pengaliran sistem distribusi.
§  Pola jaringan jalan.
§  Letak dan kondisi topografi seluruh kota.
§  Tingkat dan jenis pengembangan kota.
§  Lokasi instalasi dan reservoirnya.
§  Luas daerah pelayanan.
Terdapat beberapa pola jaringan distribusi yang dapat dipergunakan untuk mendistribusikan air kepada konsumen. Diantaranya adalah:
Ø  Pola Cabang (Branch Pattern)
Pola ini merupakan pola yang menggunakan sistem dead end. Pada sistem ini pipa distribusi utama akan dihubungkan dengan pipa distribusi sekunder dan selanjutnya pipa distribusi sekunder akan dihubungkan dengan pipa pelayanan ke konsumen. Aliran air yang terdapat dalam pipa merupakan aliran searah dengan air hanya akan mengalir melalui satu pipa induk yang semakin mengecil ke arah hilirnya. Pola ini banyak diterapkan pada daerah perkotaan yang berkembang pesat dan pada daerah yang memiliki kondisi topografi berbukit.
Keuntungan dari pola pengaliran jenis ini adalah pola ini merupakan sistem pengaliran dengan desain perpipaan yang sederhana khususnya dalam perhitungan sistem, tekanan sistem juga dapat dibuat relatif sama, serta dimensi pipa yang lebih ekonomis dan bergradasi secara beraturan dari pipa induk hingga pipa pelayanan ke konsumen. Namun selain itu juga terdapat beberapa kerugian bagi pola distribusi yang seperti ini. Beberapa diantaranya adalah:
§  Kemungkinan terjadinya “air mati” pada ujung pipa yang dapat menyebabkan air menjadi memiliki rasa dan bau. Untuk mengatasi hal ini maka perlu dilakukan pengurasan secara berkala.
§  Jika terjadi kerusakan pada pipa, maka dapat dipastikan daerah pelayanan yang dilayani oleh pipa tersebut hingga jaringan yang berada dibawahnya tidak akan mendapatkan air.
§  Bila terjadi pengembangan pada daerah pelayanan, maka penambahan sambungan dapat menyebabkan pengurangan tekanan sehingga akan mengganggu pengaliran air pula.
§  Jika terjadi kebakaran, suplai air pada fire hydrant lebih sedikit karena alirannya hanya satu arah.
Ø  Pola Kisi (Grid Pattern)
Pola ini memiliki kondisi pipa yang satu dihubungkan dengan pipa yang lain sehingga membentuk suatu lingkaran. Melalui pola jenis ini maka air dapat mengalir ke konsumen dari beberapa arah sehingga tidak terdapat dead end dengan ukuran atau dimensi pipa yang relatif sama. Kondisi daerah yang sesuai dengan pola ini adalah daerah yang telah memiliki jaringan jalan yang saling berhubungan, elevasi tanah yang relatif datar dan luas, dan pola pengembangan kota yang menyebar ke semua arah.
Keuntungan dari penggunaan pola ini adalah:
§  Air akan didistribusikan ke lebih dari satu arah dan tidak akan terjadi stagnasi.
§  Jika terjadi kerusakan ataupun perbaikan pada pipa sehingga pipa tidak dapat dipergunakan dulu maka daerah yang dilayani oleh pipa tersebut akan tetap memperoleh air.
§  Pola ini dapat mengantisipasi tekanan yang diakibatkan bervariasinya konsumsi air di daerah pelayanan maupun penambahan jumlah sambungan pada jalur pipa yang telah ada.
§  Gangguan lebih sedikit.
Namun sistem ini juga masih memiliki kelemahan, diantaranya adalah:
§  Biaya investasi pembangunan lebih besar atau relatif mahal.
§  Perhitungan sistem lebih rumit karena membutuhkan perhitungan khusus, untuk mengontrol tekanan.
Pola kisi biasanya digunakan pada daerah pelayanan dengan karakteristik:
§  Bentuk dan arah perluasan memanjang dan terpisah, maupun daerah pelayanan yang sedang berkembang dengan pola pengembangan yang tidak teratur.
§  Jalur jalan yang ada berhubungan satu dengan yang lainnya.
§  Elevasi permukaan tanahnya mempunyai perbedaan yang cukup tinggi dan menurun secara teratur ataupun bervariasi.
§  Luas daerah pelayanan relatif kecil.
Ø  Pola Gabungan
Pola ini merupakan gabungan dari kedua pola diatas yang biasanya diterapkan pada daerah yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
§  Daerah pelayanan sedang berkembang.
§  Pola jalan pada daerah pelayanan tidak berhubungan satu sama lain dengan pola pengembangan juga yang tidak teratur.
§  Daerah pelayanan memiliki elevasi yang bervariasi.
SSistem pengaliran yang dipergunakan untuk menyediakan kebutuhan air bersih ke penduduk dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu:
Ø  Sistem Gravitasi
2.3.4 SISTEM JARINGAN INDUK DISTRIBUSI
 ini dimungkinkan jika posisi sumber air atau reservoir distribusi mempunyai elevasi terhadap daerah pelayanan sehingga mempunyai tekanan yang cukup untuk mengalirkan air hingga ke penduduk yang akan dilayani.
Ø  Sistem Pompa
Pada sistem ini, pompa digunakan untuk mendorong air secara langsung ke tiap daerah pelayanan. Sistem ini sangat tergantung pada kemampuan pompa untuk mendistribusikan air sehingga bila kerusakan terjadi pada pompa maka sistem pengaliran juga akan terganggu. Sistem ini biasa dipakai pada daerah-daerah yang letak daerah pelayanannya lebih tinggi daripada sumber airnya atau dari reservoir distribusinya, sehingga penyaluran secara gravitasi tidak dapat dipergunakan. Keuntungan pengaliran dengan sistem ini adalah daerah pelayanan yang lebih besar, pengaliran yang lebih jauh, dan head yang tersedia dapat mencapai 50-60 m.
Ø  Sistem Pompa dan Reservoir
Sistem ini bekerja dengan menggabungkan kemampuan dari penyaluran secara gravitasi dengan juga digunakannya pompa. Pompa digunakan selain untuk mengalirkan air bersih ke daerah pelayanan juga mengisi reservoir distribusi. Hal ini terjadi saat kebutuhan air sedang rendah, sehingga sisa air yang tidak dialirkan ke daerah pelayanan akan dipompakan ke reservoir distribusi. Dan bila kebutuhan air meningkat, maka air bersih yang terdapat pada reservoir distribusi akan dialirkan untuk mendukung pengaliran air bersih dari pompa.
1.3.  Perencanaan Klasifikasi Jaringan Perpipaan
Pada sistem distribusi, terdapat klasifikasi dari jaringan perpipaan yang terbagi menjadi dua bagian. Diantaranya adalah:
Ø  Sistem Makro
Sistem ini berfungsi sebagai penghantar jaringan perpipaan. Jaringan penghantar ini tidak dapar langsung melayani konsumen karena dapat berakibat pada penurunan energi yang cukup besar. Sistem ini juga disebut sebagai sistem jaringan pipa hantar atau feeder, yang terdiri atas pipa induk (primary feeder) dan pipa cabang (secondary feeder).
Pipa induk merupakan pipa yang memiliki diameter terbesar dan jangkauan terluas, serta dapat melayani dan menghubungkan daerah-daerah (blok) pelayanan dan di setiap blok memiliki satu atau dua penyadap yang dihubungkan dengan pipa cabang. Pada setiap tempat bersambungnya pipa sekunder atau cabang dari pipa induk maupun pada pipa pelayanan dengan pipa sekunder atau cabang, selalu dilengkapi dengan penyadapan (tapping).
Ø  Sistem Mikro
Sedangkan sistem mikro adalah sistem yang berfungsi sebagai pipa pelayanan yaitu pipa yang melayani sambungan air bersih ke konsumen dengan memperoleh air dari pipa sekunder. Sistem mikro dapat membentuk jaringan pelayanan yang terdiri atas pipa pelayanan utama (small distribution mains) dan pipa pelayanan ke rumah-rumah (house connection).

2.4 KRITERIA BAHAN PIPA
Pemilihan Material untuk Pipa
Pemilihan material menggunakan logam ( metal ) sudah mulai diterapkan secara umum sejak tahun 1950-an berdasarkan standar API  Code 5L tentang pemilihan material pipa. Pada akhir 1980-an berdasar kode API pula, sudah ada beberapa macam tipe material pipa, yaitu A25, A, B, X42, X46, X52, X56, X60, X64, X70 dan X80. Setiap tipe material mempunyai karakteristik zat dan material penyusun masing-masing. Spesifikasi material baja yang digunakan tergantung pada komposisi kimiawi, kekuatan material, dan toleransi pipa dalam industri dan manufaktur.
Beberapa material harus ditentukan untuk mendapatkan material pipa yang tepat sesuai kebutuhan sistem perpipaan. Kriteria – kriteria dibawah ini dapat digunakan dalam pemilihan material untuk pipa :
·         Mechanical properties, termasuk ketahanan untuk menahan static loaddynamic load, dan elastisitas dalam proses manufaktur
·         Weld ability, kemudahan dan kekuatan material pipa dalam proses pengelasan.
·         Corrotion resistance, kemampuan material dalam menahan korosi.
·         Cost, berhubungan dengan biaya yang harus dikeluarkan per satuan ukuran material.
·         Availability, terkait dengan ketersediaan dan suplai material pada pasaran, sebagai pertimbangan untuk volume cadangan dan biaya
Material yang yang sering digunakan dalam dunia migas, industri, dan manufaktur terdiri dari dua, yaitu :
·         Carbon Steel
Material pipa jenis ini adalah yang paling banyak digunakan, spesifikasinya banyak ditemukan dalam ASTM ( American Society of Testing and Materials ) dan ASME ( American Society of Mechanical Engineering ).
Ada 3 jenis pipa material ini yang paling sering digunakan :
  1. ASTM A106. Terbagi dalam 3 grade, tergantung Tensile Strengh nya; Grade A ( 48 ksi ), Grade B ( 60 ksi ), dan Grade C ( 70 ksi ).
  2. ASTM A53. Material pipa ini yang biasanya dilapisi oleh zinc ( galvanized ), yang biasanya merupakan alternatif dari ASTM A106. Material ini juga terbagi dalam 3 Grade, A, B dan C, dan memilik 3 tipe; Tipe E ( Electrical Resistance Weld ), Tipe F ( Furnace Butt Weld ), dan Tipe S ( Seamless ). Grade A dan B pada ASTM 106 memiliki Tensile Strength yang sama dengan Grade A dan B pada ASTM A53.
  3. ASTM A333.  Material ini biasa digunakan pada fluida yang memiliki temperatur rendah, mulai dari -50 derajat Fahrenheit.
·         Stainless Steel
Material pipa ini dinamakan austenitic stainless steel. Namun secara umum biasanya disebut stainless steel. Stainless steel mempunyai grade 108, tetapi yang biasa digunakan adalah tipe 304L. Sesuai kode L dibelakang nama 304L, tipe ini mengandung cukup sedikit campuran karbon daripada tipe 304, tetapi memiliki kekuatan yang tinggi dan ketahanan terhadap korosi yang cukup baik.
Pada dunia industri yang sebenarnya, ada dua jenis pipa stainless steel yang paling sering dipakai, yaitu:
  1. ASTM A312, untuk pipa berukuran dibawah 8 inci.
  2. ASTM A358, untuk pipa berukuran diatas 8 inci.
Selain 2 tipe material diatas (  Carbon Steel dan Stainless Steel ), masih banyak lagi material yang dipakai dalam dunia perpipaan, walaupun jarang digunakan, yaitu :
·         Chrome-Moly Pipe ( Chromium-Molybdenum Alloy Pipe ), yang terdiri dari 10 grade, merujuk pada kode ASTM A335.
·         Nickel and Nickel Alloy Pipe, contoh penggunaan secara luas adalah Inconel, Incoloy an Monel.
·         Piping Cast Iron ( pipa besi )
·         Copper Piping ( pipa tembaga )
·         Plastic Pipe ( pipa plastik )
·         Concrete Pipe ( pipa beton )
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar